Senin, 14 Mei 2012

Jangan Tinggalkan Jejak (Leave No Trace)

Jangan Tinggalkan Jejak (Leave No Trace)


Dengan makin banyaknya orang-orang yang mencari kesenangan dan keindahan akan rekreasi di alam bebas, jejak atau bekas yang kita tinggalkan pada lingkungan dan alam sekitarnyapun akan meningkat. Polusi Air, Sampah dan gangguan kepada tumbuh-tumbuhan, kehidupan rimba dan pengunjung lain, semuanya adalah indikator kebutuhan untuk perlunya dikembangkan suatu etika daratan internasional yang melindungi area alami. Leave No Trace adalah Pendidikan yang dirancang untuk memperkecil dampak sosial dan dampak lingkungan itu dalam area ini dan didasarkan pada prinsip sebagai berikut:

Prinsip Leave No Trace
· Perencanan dimuka dan persiapan
· Berkemah dan berpergian diatas permukaan tanah yang tahan dan awet
· Berkemaslah luar dalam (tidak hanya barang di ransel anda saja)
· Buanglah kotoran dengan benar
· Biarkan apa yang ada temukan
· Minimkan penggunakan dan akibat dari api unggun
· Latihlah diri untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan perjalanan

Leave No Trace sebenarnya lebih tergantung kepada sikap (atitude) dan kesadaran kita sebagai makhluk hidup daripada prinsip-prinsip diatas dan aturan lainnya. Akibat minimum dari perjalanan dan berkemah harus fleksibel dan serta terpatri dengan pertimbangan dan pengalaman. Keterampilan Leave No Trace ini konsep dasarnya berlaku di hampir semua daerah hutan tropis, dan dapat digunakan sebagai dasar untuk mengembangan petunjuk lokal Leave No Trace. Variabel seperti jenis lahan, tumbuh-tumbuhan, kehidupan rimba, tanah lapang dan jumlah serta jenis penggunaan suatu area semua hal tersebut perlu untuk dipertimbangkan ketika menentukan tehnik Leave No Trace mana yang akan diterapkan. Prisip dari Leave No Trace ini direkomendasikan sebagai tuntunan untuk meminimalkan bekas-bekas dari kehadiran kita di keindahan daerah yang dilindungi. Perjalanan anda bahkan akan lebih menyenangkan jika kita juga turut serta dalam pemeliharaan daerah liar untuk generasi yang akan datang. Prinsip Leave No Trace ini juga mendukung aturan pemerintah atau non pemerintah setempat guna melindungi daerah yang dilindungi. Temukanlah dan pelajarilah peraturan daerah yang akan dikunjungi sebelum anda memulai perjalanan.

Rencakanlah perjalanan anda dengan hati-hati agar cocok dengan tujuan dan tingkat pengetahuan outdoor anda, ini merupakan langkah yang pertama dalam PERSIAPAN. Perjalanan yang dipersiapkan dengan cermat akan lebih selamat, menyenangkan dan baik pada lingkungan. Tanyakanlah pada orang yang paham daerah tujuan mengenai keadaan medan, cuaca, peraturan dan kehidupan liar yang ada. Informasi ini akan sangat membantu anda dalam perencanaan rute anda serta juga pakaian, peralatan, air, bahan bakar dan makanan. Petugas PPH atau jagawana juga merupakan sumber informasi yang bagus tentang kebiasaan penduduk setempat. Kita juga bisa menggunakan informasi yang ada di internet.

Jika kita menyediakan sendiri makanan untuk perjalanan, rencanakan dengan hati-hati untuk mengurangi sampah yang dibawa ke alam bebas. Bungkus ulang makanan yang dipaking dengan kotak, botol dan kaleng kedalam kantong isi ulang atau kantong plastik, ini akan mengurangi berat dan tempat. Pada perjalanan ke daerah yang jauh bawalah makanan ekstra untuk persediaan jika seandainya terjadi cuaca jelek atau keterlambatan lainnya. Pakai kantong-kantong recycle yang memungkinkan.

Untuk membantu agar tidak meninggalkan jejak (Leave No Trace), bawalah peralatan yang serba guna dan hanya bawa yang benar-benar dibutuhkan. Kompor camping yang ringan dan portable shelter seperti tenda yang free standing, akan memberikan fleksibilitas dalam pemilihan tempat camping. Bawalah peralatan lain yang dapat membantu dalam kehidupan di alam bebas, termasuk memakai sepatu yang cocok, akan mejaga kaki tetap dalam kondisi yang baik. Pakaian yang sesuai dengan kondisi medan akan dapat melindungi diri dari gangguan yang ada di alam, semisal dari nyamuk atau jenis tumbuhan pengganggu lain. Untuk perlindungan tambahan terhadap serangga anda juga bisa memakai obat anti serangga. Kurangi dampak visual kita pada orang lain dengan tidak memakai pakaian yang tidak sopan.

Dengan memelihara diri sendiri dan kelompok kita saat perjalanan di alam bebas, akan menjaga kita dan mengurangi resiko kerusakan lingkungan. Berhati-hatilah saat perjalanan dan kemampuan hidup di alam bebas serta keselamatan kelompok, sehingga tetap terkontrol. Peliharalah jalur yang kita gunakan jangan biasakan potong kompas (memotong jalan setapak yang telah ada), gunakanlah peta dan kompas. Bawalah kotak P3K dan kenali cara penggunaannya. Tinggalkan copy dari rencana perjalanan anda pada orang yang anda kenal (di base camp), hal ini untuk membantu Tim SAR jika dalam perjalan terjadi kecelakaan.

Sumber Artikel : http://adventure.howstuffworks.com/survival/wilderness/jungle-survival3.htm

Sejarah Berdirinya Pecinta Alam

Sejarah Berdirinya Pecinta Alam

Ingatlah hai engkau penjelajah alam :
1. Take nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]
2. Kill nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]
3. Leave nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki]

dan senantiasa ;
1. Percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa
2. Percaya kepada kawan [dalam hal ini kawan adalah rekan penggiat dan peralatan serta perlengkapan, tentu saja juga harus dibarengi bahwa diri kita sendiri juga dapat dipercaya oleh “teman” tersebut dengan menjaga, memelihara dan melindunginya
3. Percaya kepada diri sendiri, yaitu percaya bahwa kita mampu melakukan segala sesuatunya dengan baik.



Sejarah Pencinta Alam Serta Perkembangannya
Apabila sejenak kita merunut dari belakang, sebetulnya sejarah manusia tidak jauh-jauh amat dari alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia berburu dan mengumpulkan makanan, alam adalah "rumah" mereka. Gunung adalah sandaran kepala, padang rumput adalah tempat mereka membaringkan tubuh, dan gua-gua adalah tempat mereka bersembunyi. Namun sejak manusia menemukan kebudayaan, yang katanya lebih "bermartabat", alam seakan menjadi barang aneh. Manusia mendirikan rumah untuk tempatnya bersembunyi. Manusia menciptakan kasur untuk tempatnya membaringkan tubuh, dan manusia mendirikan gedung bertingkat untuk mengangkat kepalanya.
Manusia dan alam akhirnya memiliki sejarahnya sendiri-sendiri. Ketika keduanya bersatu kembali, maka ketika itulah saatnya Sejarah Pecinta Alam dimulai :
Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Saat itu belum jelas apakah mereka ini tergolong pendaki gunung pertama. Namun beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Barangkali mereka itu pemburu yang mendaki gunung. Tapi inilah pendakian gunung yang tertua pernah dicatat dalam sejarah.
Di Indonesia, sejarah pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan "Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju" di Papua. Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yakni Puncak Cartensz. Pada tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan. Orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma menurut orang Tibet. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itu, pendakian ke atap-atap dunia pun semakin ramai.
Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari sebuah perkumpulan yaitu "Perkumpulan Pentjinta Alam"(PPA). Berdiri 18 Oktober 1953. PPA merupakan perkumpulan Hobby yang diartikan sebagai suatu kegemaran positif serta suci, terlepas dari 'sifat maniak'yang semata-mata melepaskan nafsunya dalam corak negatif. Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Sayang perkumpulan ini tak berumur panjang. Penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung sehingga akhirnya PPA bubar di akhir tahun 1960. Awibowo adalah pendiri satu perkumpulan pencinta alam pertama di tanah air mengusulkan istilah pencinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi. "Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini?."
Sejarah pencinta alam kampus pada era tahun 1960-an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan keluarnya SK 028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan ini mula – mula dikemukakan Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 Nopember 1964, ketika mahasiswa FSUI sedang beristirahat setelah mengadakan kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan ini, seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh organisasi pencinta alam yang didirikan oleh beberapa orang mahasiswa FSUI pada tanggal 19 Agustus 1964 di Puncak gunung Pangrango. Organisasi yang bernama Ikatan Pencinta Alam Mandalawangi itu keanggotaannya tidak terbatas di kalangan mahasiswa saja.
Semua yang berminat dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat. Sayangnya organisasi ini mati pada usianya yang kedua. Pada pertemuan kedua yang diadakan di Unit III bawah gedung FSUI Rawamangun, didepan ruang perpustakaan. Hadir pada saat itu Herman O. Lantang yang pada saat itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama organisasi yang akan lahir itu IMPALA, singkatan dari Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam. Setelah bertukar pikiran dengan Pembantu Dekan III bidang Mahalum, yaitu Drs. Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan menyarankan agar mengubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Alasannya nama IMPALA terlalu borjuis. Nama ini diberikan oleh Bpk Moendardjito. MAPALA merupakan singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam. Dan Prajnaparamita berarti dewi pengetahuan. Selain itu MAPALA juga berarti berbuah atau berhasil. Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat lindungan dewi pengetahuan. Ide pencetusan pada saat itu memang didasari dari faktor politis selain dari hobi individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar organisasi.
Dalam tulisannya di Bara Eka 13 Maret 1966, Soe mengatakan bahwa : “Tujuan MAPALA ini adalah mencoba untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, tanah air, rakyat dan almamaternya. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah air Indonesia secara menyeluruh, barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik” Para mahasiswa itu, diawali dengan berdirinya MAPALA Universitas Indonesia, membuang energi mudanya dengan merambah alam mulai dari lautan sampai ke puncak gunung. MAPALA atau Mahasiswa Pecinta Alam adalah organisasi yang beranggotakan para mahasiswa yang mempunyai kesamaan minat, kepedulian dan kecintaan dengan alam sekitar dan lingkungan hidup. Sejak itulah pecinta alam pun merambah tak hanya kampus (Kini, hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia memiliki MAPALA baik di tingkat universitas maupun fakultas hingga jurusan), melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik rumah ibadah, sudut-sudut perkantoran, lorong-lorong atau kampung-kampung. Seakan-akan semua yang pernah menjejakkan kaki di puncak gunung sudah merasa sebagai pecinta alam.

PALA ( PECINTA ALAM ),
Konsekuensi yang harus dihadapi dari sebuah konsistensi
Apa yang diharapkan dengan mengikuti sebuah organisasi bernama PALA ( Pecinta Alam )? Banyak memandang sebelah mata pada organisasi ini dan terkadang mengatakan bahwa kegiatannya hanya bersifat hura-hura yang menghabiskan uang. Suara itu semakin santer terdengar bila ada pemberitaan mengenai kecelakaan yang dialami oleh anggota PALA ( Pecinta Alam ) pada waktu melakukan kegiatan di alam. Dalam sebuah diskusi (mengutip dalam artikel Kompas, Minggu 29 Maret 1992) kegiatan PALA ( Pecinta Alam ) dapat dikategorikan sebagai olahraga yang masuk ke dalam kaliber sport beresiko tinggi. Kegiatannya meliputi mendatangi puncak gunung tinggi, turun ke lubang gua di dalam bumi, hanyut berperahu di kederasan jeram sungai deras,
keluar masuk daerah pedalaman yang paling dalam dan lainnya. umumnya kegiatan PALA ( Pecinta Alam ) berkisar di alam terbuka dan menyangkut lingkungan hidup. Jenis aktifitas meliputi pendakian gunung (mountaineering), pemanjatan (climbing), penelusuran gua (caving), pengarungan arus liar(rafting), penghijauan dan lain sebagainya. Tak ayal lagi bahwa kegiatan ini beresiko tinggi dan setiap anggotanya harus memahami konsekuensi resiko yang dihadapi dengan bergabung dengan organisasi ini. Resiko yang paling berat adalah cacat fisik permanen dan bahkan kematian. Untuk bisa mempersiapkan diri menghadapi resiko yang tinggi ini, dibutuhkan kesiapan mental, fisik dan skill yang memadai. Berbagai macam latihan dan pengalaman terjun langsung ke alam dapat meminimalisir resiko yang akan dihadapi. Tapi, diluar semua itu masih ada yang lebih berwenang untuk menentukan hidup dan mati seseorang.

PALA,
Pencinta alam atau Petualang ?
Dua nama, pencinta alam dan petualang seolah-olah merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologi kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidak ada hubungan satu sama lainnya. Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangat suka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalaman yang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsb. Dengan demikian, secara etimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda, meskipun ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam. Dilain pihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup “istilah” saja, tetapi juga langkah yang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakan enviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekat dengan aktivitas-aktivitas Adventure-nya seperti pendakian gunung, pemanjatan tebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alam sebagai medianya.

Kini yang sering ditanyakan
Ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah dimanakah pencinta alam? begitupun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai medianya. Bahkan Tak jarang aktivitas “mereka” berakhir dengan terjadinya tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam, misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak merekapun bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka. keberadaaan mereka belum mencirikan kejelasan arah gerak dan pola pengembangan kelompoknya. Jangankan mencitrakan kelompoknya sebagai pecinta alam, sebagai petualang pun tidak. Aktivitas mereka cenderung merupakan aksi-aksi spontanitas yang terdorong atau bahkan terseret oleh medan ego yang tinggi dan sekian image yang telah terlebih dulu dicitrakan, dengan demikian banyak diantara para “pencinta alam” itu cuma sebatas “gaya” yang menggunakan alam sebagai alat.

TALI-TEMALI


Tali Temali

Tali merupakan peralatan yang tidak bisa dilepaskan, ditinggalkan dalam setiap kita berkegiatan dialam bebas. Tali hampir digunakan disetiap kita berkegiatan, baik itu mendaki gunung, memanjat tebing, menelusuri gua, arung jeram, dsb. Untuk itulah pengetahuan tetang tali temali sangat dibutuhkan sekali sebelum kita berkegitan dialam bebas. 


Simpul adalah ikatan pada tali atau tambang yang dibuat dengan sengaja untuk keperluan tertentu. Ikatan itu sendiri, khususnya yang digunakan pada saat Panjat Tebing, terbagi kedalam empat macam. Klik pada rantai tulisan bergaris bawah untuk keterangan dan gambar lebih jelas tentang beragam simpul dan cara membuatnya.

PERINGATAN! Semua tutorial pembuatan simpul dan mekanisme teknis panjat memanjat enggak bisa dipelajari dari sekedar membaca artikel. Carilah nasehat profesional langsung dari para ahli karena kesalahan dalam pembuatan dan penggunaan bisa berakibat FATAL

Knots (Tali-temali) adalah salah bagian dari kehidupan, mulai dari tiang jemuran, menali kapal, membuat kemah hingga panjang tebing. Acapkali tali juga menjadi sandaran keselamatan jiwa untuk beberapa kegiatan seperti pramuka, mendaki gunung, rock climbing, dan caving.
Kehidupan di kapal dan memancing juga sangat bergantung pada tehnik tali-temali ini.

Di dalam kegiatan alam terbuka, pengetahuan akan tali temali merupakan pengetahuan wajib yang harus dimiliki oleh penggiat alam terbuka tersebut, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga berguna di saat keadaan darurat atau SAR, baik di saat mendaki gunung (mountaineering) terlebih panjat tebing (Rock Climbing).
Kita ketahui sendiri bahwa penggunaan tali dalam kehidupan sangatlah sering, terkadang kita membuat suatu simpul tapi tidak mengetahui simpul apa itu dan apa keguanaannya. Untuk itu sekilas info akan mengulasnya, langsung saja ini dia lets cekedaut!
Dalam tali temali kita sering mencampuradukkan antara tali, simpul dan ikatan. Hal ini sebenarnya berbeda sama sekali. Tali adalah bendanya. Simpul adalah hubungan antara tali dengan tali. Ikatan adalah hubungan antara tali dengan benda lainnya, misal kayu, balok, bambu dan sebagainya.
 Macam-Macam Tali
Berdasarkan dari bahannya tali terdapat bebrapa jenis antara lain:
A. Tali dari bahan serat alam
Bahan yang digunakan untuk membuat tali adalah serat tumbuhan ataupun dari lapisan serat tumbuhan, cara untuk membuatnya yaitu dengan cara memilih serat tumbuh-tumbuhan. Adapun yang termasuk dalam jenis ini adalah:
1.      ABACA (Serat manila)
Serat yang digunakan tali ini dari keluarga pisang-pisangan atau tangkai tumbuh-tumbuhan dan sering disebut serat manila. Tali ini keras dan kuat.
2.      SISAL
Sifatnya keras dan kuat, satu kelebihan dan tali ini tahan terhadap air laut, biasanya digunakan untuk membungkus dari kain karung.
3.      JUTE (Rami atau Goni)
Termasuk jenis lunak dan sering digunakan untuk membuat benang.
4.      ROTAN
Banyak digunakan untuk membuat jembatan.
Tali dari bahan tumbuh-tumbuhan atau dari serat alam yang mempunyai kelebihan
Ø Tahan terhadap abrasi
Ø Mudah untuk mengetahui bahan yang rusak
Ø Tahan terhadap gesekan
Sedangkan kelemahannya adalah:
Ø Mudah melintir
Ø Tali menjadi kaku apabila dipakai dalam waktu yang lama sehingga sulit untuk dibuat simpul.
Ø Berat

B.  Tali dari serat buatan
Tali dari serat buatan ini mempunyai kualitas yang lebih baik karena sifatnya yang mudah diatur menurut kehendak pembuatnya seperti nilon. Berdasarkan bentuknya tali yang terbuat dari serat buatan dibedakan menjadi 3 yaitu:

1.   Tali yang Dipilin (Hawserlide Rope)
    Terdiri dari serabut nylon yang dipilin, biasanya terdiri dari tiga atau empat bagian. Keuntungan adalah tahan terhadap gesekan, mudah mengetahui bagian yang rusak dan harganya relatif lebih murah. Kelemahannya adalah kurang lentur sehingga apabila orang terjatuh dan menggunakan tali ini hentakkannya akan terasa sakit.

2.   Tali Sumbu Kompor (Kernmantle)
    Tali ini terdiri atas dua bagian yaitu Kern (inti) dan mantle (pembungkus), tali ini terbuat dari nylon yang dibungkus. Kelebihannya tali ini bersifat fleksible (tingkat elastisnya tinggi), sehingga mampu meredam hentakan-hentakan yang keras sekalipun. Kelemahannya sangat sulit untuk mengecek kerusakannya juga tidak teahan terhadap gesekan. Tali kernmantel ini ada dua jenis yaitu:
a.  Kernmantle Static
Tali ini sangat baik untuk menahan beban, yang sifatnya tetap (tanpa hentakan) karena tingkat elastisitasnya yang tidak begitu tinggi yaitu 2-5 % dari beban yang diberikan. Dan sangat baik untuk kegiatan naik maupun turun dengan menggunakan mekanik seperti caving. Dengan menggunakan tali ini dapat menghemat tenaga, karena tenaga yang kita keluarkan tidak banyak teserap oleh kelenturan tali. Secara fisik dapat diketahui dari warnanya. Yang bercorak polos atau dengan sedikit variasi.
b.  Kernmantle Dynamic
Jenis ini sangat baik untuk menahan beban yang bergerak (dengan hentakan) dan mampu menyerap hentakan yang cukup tinggi sampai 20%. Banyak digunakan dalam panjat tebing. Secara fisik bisa digunakan dengan warna tali yang bercorak mencorok dan berwarna cerah.

Anatomi Tali Kermantle
Kekuatan tali dapat berkurang antara lain disebabkan oleh:
1)    Simpul (di tengah tali)
2)    Sering mendapat beban yang berat dalam waktu yang lama.
3)    Karena basah.
4)    Faktor usia tali, dsb.

Berikut ini adalah Simpul dan Ikatan yang ada dalam tali temali beserta kegunaannya :
Macam – macam simpul tali
  1. Simpul ujung tali
    Gunanya agar tali pintalan pada ujung tali tidak mudah lepas
  2. Simpul mati
    Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besar dan tidak licin
  3. Simpul anyam
    Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan kering
  4. Simpul anyam berganda
    Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang tidak sama besarnya dan dalam keadaan basah
  5. Simpul erat
    Gunanya untuk memendekkan tali tanpa pemotongan
  6. Simpul kembar
    Gunanya untuk menyambung 2 utas tali yang sama besarnya dan dalam keadaan licin
  7. Simpul kursi
    Gunanya untuk mengangkat atau menurunkan benda atau orang pingsan
  8. Simpul penarik
    Gunanya untuk menarik benda yang cukup besar
  9. Simpul laso
Macam – macam Ikatan tali
  1. Ikatan pangkal
    Gunanya untuk mengikatkan tali pada kayu atau tiang, akan tetapi ikatan pangkal ini dapat juga digunakan untuk memulai suatu ikatan.
  2. Ikatan tiang
    Gunanya untuk mengikat sesuatu sehingga yang diikat masih dapat bergerak leluasa misalnya untuk mengikat leher binatang supaya tidak tercekik.
  3. Ikatan jangkar
    Gunanya untuk mengikat jangkar atau benda lainnya yang berbentuk ring.
  4. Ikatan tambat
    Gunanya untuk menambatkan tali pada sesuatu tiang/kayu dengan erat, akan tetapi mudah untuk melepaskannya kembali. Ikatan tambat ini juga dipergunakan untuk menyeret balik dan bahkan ada juga dipergunakan untuk memulai suatu ikatan.
  5. Ikatan tarik
    Gunanya untuk menambatkan tali pengikat binatang pada  suatu tiang, kemudian mudah untuk membukanya kembali. Dapat juga untuk turun ke jurang atau pohon.
  6. Ikatan turki
    Gunanya untuk mengikat sapu lidi setangan leher
  7. Ikatan palang
  8. Ikatan canggah
  9. Ikatan silang
  10. Ikatan khaki tiga

Magic Munter (Italian) Hitch

 
Munter diangkat menjadi nama sebuah simpul terkenal Munter Hitch. Ceritera mengatakan Herr Munter membawa simpul nelayan ini untuk memanjat, mengetes pengeraman jatuh (fall resting) -saat pelatihan untuk menjadi pemandu di tahun 1960-an. Dia merasa bahwa belay pada pinggul tidak cukup daya friksinya dan sebagai gantinya menggunakan Italia (sekarang Munter) Hitch.
Dari semua alat di kotak peralatan saya untuk memanjat dan memandu, sebuah Munter Hitch adalah satu dari tiga yang sering saya andalkan: cepat , membutuhkan sedikit alat, dan multifungsi. Seharusnya jadi sahabat kedua untuk semua pemanjat.


Dasarnya

Kapan: Apakah Anda pernah lupa alat belaying/rappel, atau merasa bahwa menggunakannya terlalu lambat untuk bagian yang lebih pendek? Atau ternyata tali Anda membeku sehingga tidak bisa melalui alat belay/rappelling? Sebuah Munter menyelesaikan semua masalah ini
Alatnya: Tali dan karabiner HMS (dengan pengunci) - atau krabiner berbentuk buah pir. Catatan: gunakankara biner semi-otomatis atau otomatis untuk rappels, untuk mengurangi kemungkinan tali untuk membuka screw.
Pergeseran : Munter Hitch bekerja seperti sistem belay lainnya. Butuh tiga hal detail dalam pikiran:
1. Pengujian: Setelah Anda buat simpul, tarik masing-masing helai untuk memastikan tali berjalan. The Munter adalah simpul bi-directional, dimaksudkan untuk "flip" sebagai lawan utas tali yang ditarik.
2. Pengereman: Untuk rem, bawa dua helai tali sejajar satu sama lain - yaitu, tarik helai tali rem yang berdampingan dengan helai tai untuk pemanjat (selanjutnya disebut sebagai "beban").
3. Balik: Anda dapat mencegah - atau paling tidak mengurangi - hasil belitan simpul Munter oleh pengereman seperti per di atas, atau dengan menggunakan Super Munter
Membuatnya:
Berikut adalah dua cara untuk membuat Munter.
1. Munter dua tangan. Dengan tali di satu tangan, bentuk bight. Putar bight 360 derajat dan kemudian cantolkan karabiner melalui bight. Tarik tali untuk membentuk sebuah Munter Hitch. Kunci karabiner Anda!
2. Munter satu tangan, langsung pada titik anchor: teknik ini memungkinkan untai tali yang terbebani ada pada tempat yang tepat dan Anda dapat dengan mudah mengubah Munter dalam pangkal, saat partner Anda mencapai anchor . Pertama, letakkan tali Anda melalui karabiner Anda, yang harus terkait dengan anchor. Dengan tali yang tak terbebani, putar tali ke atas hingga membuat loop. Sekarang berikan putaran 4 kali (90 derajat) dan cantolkan melewati karabiner untuk membentuk Munter Hitch. (Jika Anda tidak memutar itu 4 kali, tali tidak pada posisinya.) Kunci karabiner!

4 Simpul Terpenting Untuk Panjat

Anda tidak perlu mengenal banyak simpul untuk memanjat, tetapi anda perlu untuk mengenalnya, anda perlu mengenalnya dengan baik. Sementara tercatat ada hampir 4,000 simpul, anda dapat dengan aman memanjat dengan mengenal enam simpul sederhana dan penting di bawah ini. Sebagaimana karir panjat anda berkembang, anda akan mempelajari banyak simpul khusus lain tetapi simpul sehari-hari ini merupakan simpul yang anda perlu ketahui dari awal, akhir pembuatan, bahkan dalam kegelapan.
Mereka terbaik untuk panjat, karena punya beberapa alasan;
- Mudah dibuat

- Sulit menjadi ketat
- Mudah diperiksa begitu saja
Latih mengikat simpul ini dengan tali panjang sebelum pergi ke tebing, jadi anda menguasainya dan terampil untuk dilihat setelah pengaman diri sendiri. Anda perlu tahu bagaimana cara membuat mereka semua, mengapa
mereka penting, dan b
agaimana cara menggunakannya masing-masing.
1.Figure-8 Follow-Through
Merupakan simpul standar and
a, menghubungankan tali ke harness. Adalah simpul panjat paling aman digunakan, diselesaikan dengan fisherman's backup knot.

2.Clove Hitch
Sebuah simpul yang cepat dibuat untuk menghubungan tali ke anchor. Baik karena ini tidak mengambil banyak bagian tali dan secara mudah disesuaikan.

3.Figure 8 on a Bight
Simpul loop terbaik untuk mengikat tali anda ke titik pengaman karena ini kuat dan mudah dilepaskan. juga berguna untuk mencantolkan seseorang pada pertengahan tali.


4.Double Figure 8 Fisherman's Knot.
Simpul terkuat dan terbaik untuk menyambungkan dua tali untuk rappelling atau top-roping.

5.Prusik Knot.
Merupakan salah satu simpul friksi atau simpul yang dibalut/diklem pada tali utama. Simpul pengaman diri yang mudah dibuat untuk meniti tali utama saat situasi darurat.

6.Munter Hitch
Juga
dikenal sebagai Italian Hitch. Sebuah simpul belay dan rappel darurat yang ikatkan pada karabiner. Berguna jika anda menjatuhkan alat belay anda (belay device).



4 Friction Knot for Climber

4 Simpul Friksi Bagi Pemanjat
Pemanjat perlu mengenal sedikitnya salah satu dari simpul friksi ini sehingga ia dapat meniti sebuah tali tetap (fixed rope) terutama pada situasi darurat; melepaskan pengamanan untuk self-rescue; meniti tali setelah terjatuh ke celah yang dalam di glacier dan sebagai pengaman cadangan atau penguncian dengan sendirinya (autoblock) saat melakukan rappelling. 4 simpul ini mudah dipelajari, cepat dibuat, dan tidak merusak tali seperti mekanis ascender, yang menggunakan gigi/taji pencengkeram tali. Saat pemanjat menggunakan simpul ini untuk memanjat/meniti tali, teknik disebut "prusiking".

Semua empat simpul friksi pada dasarnya sekedar sebuah loop tali dengan diameter kecil (5-6 mm), biasanya disebut “sling prusik" , dikaitkan ke tali panjat. Setelah simpul dilampirkan, pemanjat naik tali tetap dengan menggeser simpul ke atas . Simpul, menggunakan daya gesekan terciptai bila simpul dibebani dengan berat pemanjat, berkontraksi dan mencengkeram tali, mengizinkan pemanjat naik. Simpul friksi seharusnya tidak digunakan pada tali yang beku akibat es karena simpul tak kan mencengkeram tali. Jika anda menggunakan simpul friksi untuk naik, adalah penting menggunakan dua sling untuk dua simpul dan pastikan anda terhubung dengan tali-jangan pernah mempercayai nyawa anda pada simpul friksi yang tunggal.

Simpul Friksi Dengan Tali Kecil
Simpul friksi terbaik dibuat dengan sling panjang berdiameter 5mm atau 6mm , dengan ujungnya diikat bersama dengan simpul nelayan ganda atau simpul delapan-nelayan ganda (kedua simpul juga digunakan untuk menyambung tali rappel) ke bentuk sebuah loop. Semakin tebal diameter sling-prusik yang digunakan, semakin sedikit pergesekan ataugaya cengkeram simpul pada tali panjat . Lebih menghasilkan pergeseran daripada mencengkaram tali dengan kuat. Inilah mengapa selalu lebih cenderung menggunakan cord (tali prusik) daripada webbing untuk simpul friksi,meskipun webbing samahalnya dengan sling akan bekerja saat jika diperlukan.
Semanakah Panjangnya
Panjang loop untuk simpul friksi adalah keputusan pribadi. Saya lebih suka menggunakan panjang 24-inch, sama panjang dengan sling yang dijahit, daripada loop yang lebih panjang. Lebih pendek loop lebih mudah mengangkat harness dan dapat secara mudah dibuat lebih panjang dengan mengaitkan sling lainnya. Sebuah loop dengan panjang 5-kaki dibutuhkan utnuk membuat loop 24-inch. Pemanjat lebih suka membawa loop 24-inch dan loop 48-inch, mengaitkan yang pendek ke loop harness dan yang lebih panjang digunakan sebagai sling untuk kaki.


4 Simpul Friksi.

Simpul Prusik paling umum digunakan sebagai simpul gesek (friksi knot) untuk meniti tali. mudah dibuat dan sangat aman bila ini terbebani. Kekurangannya jika ini terlalu ketat, susah dilepas dan menggesernya. 













Klemheist merupakan simpul friksi yang digunakan untuk meniti tali dan untuk self-rescue bila pemanjat perlu lepas dari pengaman. Seperti simpul prusik, ini bisa digeser dengan mudah pada tali utama. Keuntungan simpul Klemheist daripada simpul Prusik bahwa simpul ini lebih mudah dilepaskan balutannya pada tali utama setelah terbebani, bekerja pada satu arah, lebih cepat dibuat daripada simpul Prusik , mudah dilepas setelah terbebani, dan dapat dibuat dengan webbing.


 


Bachmann merupakan simpul friksi yang mempergunakan karabiner sebagai pegangan (handle) dan digunakan untuk meniti tali tetap. Sementara karabiner membuatnya mudah menggeser simpul ini pada tali utama, jika karabiner permukaannya halus dan tidak menggenggam tali kecelakaan dapat saja terjadi. Simpul Bachmann ideal untuk situasi pertolongan dan sebagai back-up pengaman saat dilepas ketika tak dibebani, tetapi secara otomatis mencengkeram tali bila ini dibebani.







Autoblock juga disebut Simpul Prusik Perancis, mudah dibuat dan simpul friksi serbaguna yang digunakan sebagai simpul pengaman cadangan pada tali rappeling. Simpul diikat di tali di bawah alat rappelling dan kemudian terkait dengan harness pemanjat melalui sebuah karabiner pada bagian paha (leg loop) atau belay loop. Simpul ini membantu pergesekan pada rappeling dan membiarkan pemanjat dengan aman berhenti melakukan rappelling untuk mengatur tali atau lakukan tugas lainnya. Simpul ini harus tidak pernah digunakan untuk meniti tali karena ini lebih cenderung bergeser daripada mencengkeram tali utama. Maupun digunakan sebagai sarana menurunkan karena pemanjat dapat hilang kendali dan terkena panasnya tali akibat gesekan.